Demonstrasi: di Antara Simpati dan Cibiran
Dalam dunia demokrasi, penyampaian aspirasi yang dituangkan dalam sebuah aksi demonstrasi merupakan sesuatu yang lumrah. Namun demikian, ada kalanya aksi tersebut menjadi anarkis atau merugikan orang lain sehingga seringkali aksi tersebut malah mengundang kecaman masyarakat dan tak jarang malah menjadi awal dari pertentangan horizontal antara demonstran dan masyarakat.
Mahasiswa adalah elemen dalam masyarakat demokrasi yang sering mempertontonkan aksi demonstrasi. Layaknya dua sisi mata uang, aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa untuk menunjukkan sikap kekritisan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kurang memberikan keadilan kepada rakyat, kerapkali berada dalam dua sisi, apakah mengundang simpati masyarakat atau malah mengundang cibiran masyarakat. Simpati masyarakat muncul manakala isu yang dibawakan demonstran sesuai dengan harapan rakyat yang merindukan keadilan dari pemerintah. Namun, cara-cara yang tidak elegan yang seringkali dipraktikkan demonstran seringkali malah mengundang cibiran dan kecaman masyarakat.
Sebenarnya, ada banyak metode penyampaian aspirasi dalam sebuah aksi yang masih sesuai dengan koridor norma dan aturan, misalnya dengan menyampaikan pernyataan langsung dengan pengeras suara atau melalui aksi teatrikal. Namun demikian, seringkali hal tersebut dinilai kurang memberikan hasil sehingga terjadilah aksi-aksi yang anarkis. Pagar kantor pemerintah dijebol, jalan diblokir, ban mobil dibakar, foto-foto pejabat dibakar, atau lebih buruk lagi gedung perwakilan rakyat yang dibakar. Satu lagi yang patut dituliskan, aksi melalui bakar diri sebagaimana yang beberapa waktu lalu dilakukan seorang mahasiswa di depan Istana Presiden. Semua itu terjadi agar menarik perhatian pemangku kebijakan.
Aksi-aksi anarkis yang berujung pada terganggunya kepentingan masyarakat memang tidak hanya didominasi oleh kalangan mahasiswa. Masyarakat umum pun bisa melakukannya. Contoh kasus yang terjadi beberapa waktu lalu di Bekasi, dimana ribuan pekerja melakukan aksi pemblokiran jalan tol Cikampek sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan sampai melumpuhkan kegiatan bisnis di sana.
Melihat kasus-kasus aksi anarkis tersebut wajar jika banyak warga yang antipati kepada aksi demonstrasi, khususnya kepada aksi mahasiswa. Namun sesungguhnya, jika dilihat lebih dalam lagi, segala bentuk aksi anarkis tersebut tidak muncul tanpa alasan. Semua aksi anarkis itu sebenarnya tak perlu terjadi seandainya pemerintah sebagai pemangku kebijakan cukup aspiratif terhadap rakyatnya. Namun sayang, pemerintah kita sepertinya sudah tuli dengan suara penderitaan rakyat. Meskipun rakyat sudah berteriak-teriak, mengucurkan darah dan air mata, hingga membakar diri melepas nyawa, pemerintah masih juga tidak mau mendengar jeritan rakyatnya. Rakyat termasuk mahasiswa di dalamnya, tidak memiliki kekuatan sebesar pemerintah. Yang mereka miliki hanya kekuatan untuk didengarkan. Di saat pemerintah menulikan telinganya atas penderitaan rakyat, wajar jika mereka bertindak anarkis.
Aksi demonstrasi akan senantiasa ada dalam dunia demokrasi. Namun, apakah aksi tersebut bisa berlangsung sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku, tetap harus dikembalikan kepada pemerintah. Jika pemerintah cukup aspiratif, bisa dipastikan rakyat dan juga mahasiswa tidak akan melakukan aksinya dengan anarkis.
***
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI 2008. Tinggal di Jalan Karang Tineung 45 Bandung. Kontak 085353699317
Komentar
Posting Komentar